« July 2007 | Main

Apa Arti Nasionalisme???

       Tepat 62 tahun yang lalu, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Apa artinya merdeka? Banyak artinya. Merdeka bisa berarti luas, tidak hanya sekedar bebas dari belenggu kolonialisme penjajah. Namun kemerdekaan dalam arti sesungguhnya adalah menjadi bangsa yang bebas, bangsa yang bermartabat, bangsa yang memiliki harga diri, bangsa yang memiliki cita-cita dan bangsa yang besar.

 Berikut ini adalah cuplikan kata-kata yang dituliskan Kompas, edisi 16 Agustus 2007. Komentar ini berasal dari banyak kalangan.

  • “Dulu selama 3 tahun, selain kuliah di UGM      aku membantu jadi guru Bahasa Inggris di SD Jatisari Sleman tanpa dibayar.      Aku tak mau kemiskinan struktural membelenggu murid-muridku untuk maju”,      Thomas, 31 tahun, Semarang
  • “Walaupun aku gak bisa nerusin sekolah SMA      dan sekarang bekerja tapi aku akan berusaha belajar dari media apapun yang      bisa membuat aku tidak bodoh”, Rastikawati, 18 tahun, Jakarta
  • “Saya lebih memilih tas buatan Tanggul      Angin-Sidoarjo ketimbang tas bermerk meski bisa nitip ke suami yang      kadang-kadang dinas ke luar negeri”, Dhani, 42 tahun, Jakarta
  • “Menjadikan rumah tangga sebagai tempat yang      demokratis bagi anggotanya dalam mewujudkan iman dan nasionalisme”,      Benjamin Sitepu, 60 tahun, Bekasi
  • “Saya terjun ke kelompok-kelompok tani untuk      penyuluhan Pertanian ORGANIK. Mendorong mereka untuk bertani secara ramah      lingkungan, non kimia, menyehatkan dan mampu berdaulat secara pangan.      Menyadarkan petani semata-mata untuk tidak menjadi objek produk perusahaan      transnasional. Ini nasionalismeku”, Gons, 30 tahun, Pematangsiantar
  • “Gue cuma pake 6 gayung sekali mandi. Kalo      keramas, nambah 2 gayung. Ini bentuk nasionalisme gw demi menjaga      lingkungan Indonesia, apalagi nggak semua orang di Indonesia punya akses      terhadap air bersih”, Svetlana, 19 tahun, Yogyakarta
  • “Aku kader posyandu, membantu kader balita      tumbuh sehat, cerdas dan ceria merupakan bentuk nasionalismeku juga loh”,      Ratu Tati Muthiah, 50 tahun, Bogor
  • “Banyakin nonton film Indonesia, dengerin      lagu-lagu Top-40 Indonesia. Yuuuks mareee dukung film dan musik      Indonesia”, Arum Sekar, 26 tahun, Jakarta
  • “Adikku hari ini berangkat menuju eksperimen      ke Natuna, dalam rangka menguatkan pertahanan sosial budaya pulau-pulau      terluar. Kudoakan tim mereka dapat menjalankan tugas dengan baik. Rasanya      bangga dengan kiprah anak-anak muda itu. Pertahankan kedaulatan Indonesia      seutuhnya”, Nataresmi, 28 tahun, Tangerang
  • “Nasionalisme gue dengan tidak membeli kaset      bajakan dan tetap memakai kebaya dalam setiap acara khusus”, Johanna, 21      tahun, Jakarta
  • “Aku cat tembok kamarku jadi merah putih.      Tiap bangun tidur dan mau tidur aku pandangi dwi warna. Ini nasionalismeku      banget”, Andita S.M., 19 tahun, Surabaya
  • “Gw kerja di sebuah perusahaan retail bagian      CCTV/Central. Salah satu tugas gw adalah nyetel lagu untuk didengar      pengunjung. Selama 8 jam gw bertugas, lagu yang didengar oleh pengunjung      adalah lagu-lagu anak bangsa, gw ga pernah nyetel lagu barat. Buat gw ini      juga bentuk nasionalisme”, Rury Purwanto, 22 tahun, Tangerang
  • “Gw cinta budaya Indonesia! Sampe sekarang,      gw masih maenin permainan ‘asli Indonesia’ seperti bekel, congklak, gw      pikir permainan Indonesia bener ga ada matinya! Sampai sekarang permainan      kayak gitu tetep seru, itu dia yang bikin gw cinta Indonesia”, Gracia, 16      tahu, Jakarta
  • “Dengan bersepeda ke kantor walau 2 kali      seminggu dan selalu memanfaatkan kertas bekas di kantor dapat membuat bumi      Indonesia lebih sehat, ini nasionalisme gue”, Petrus Simanjuntak, 27      tahun, Bekasi
  • “Aku selalu pilih produksi dalam negeri      daripada barang impor”, Y. Soenaryo, 62 tahun, Yogyakarta
  • “Saya mencoba mendaur ulang sampah rumah      tangga dengan membuatnya menjadi pupuk atau kerajinan tangan. Dengan      mendaur ulang sampah kita mencoba untuk membuat Bumi Nusantara kita lebih      baik”, Muhamad Firmanyah, 17 athun, Tangerang
  • “Waktu kuisi perut di angkringan “JoZZ”,      tba-tiba ada pengamen dan aku pun request lagu. Ayo Mas...kita nyani      Indonesia Raya aja!! Dan akhirnya lagu heroik selama 62 tahun itu kita      nyanyikan dengan lantang di tengah hiruk pikuk angkringan di sudut Yogya.      Ini pasti nasionalismeku”, Gabriella L.D. Swastika, 18 tahun, Yogyakarta
  • “Saya bangga dengan karya batik Indonesia      karena batik adalah adi busana yang mempunyai nilai seni budaya bangsa.      Dengan memaki baju batik, itu bentuk nasionalisme saya”, Dewi Andarina, 37      tahun, Jakarta
  • “Nasionalisme adalah orang yang punya      kesempatan besar memperkaya diri lewat korupsi tetapi tidak melakukannya.      Sebagian orang bilang ini bodoh, saya bilang ini nasionalisme”, Andoko, 46      tahun, Jakarta
  • “Anakku yang lahir 5 bulan lalu kuberi nama      DAMAI NUSANTARA, karena nama anak merupakan doa orangtua”, Ardiansah      Damopolii, 33 tahun, Makassar
  • “Saya tetep setia didepan TV, walaupun      Ananda crash, Yendri Pitoy memungut bola dari gawangnya berkali-kali,      Taufik kena smash terus atau M. Rahman dihajar habis-habisan. Tak ada      kejadian apapun yang membuat saya berhenti mendukung pejuang Indonesia”,      Ali Husen, 18 tahun, Bandung
  • “Kupunya ayam kalasan, mengapa harus heboh      dengan fried chicken orang. Aku punya martabak terang bulan mengapa harus      heran dengan pizza berbentuk piring terbang. Ku punya pulau, laut luas      membentang membuat orang ingin menyerang. Tak kan pernah aku relakan walau      nyawa harus melayang!”, Roymond, 30 tahun, Jember
  • “Gue mikir, sekarang upacara cuma sebulan      sekali, sedangkan ngobrol dan cekikikan bisa setiap hari. Gue memilih jadi      salah satuu orang yang hormat ke bendera di antara obrolan dan cekikikan      di sekeliling gue”, Chintya Bamby, 15 tahun, Bekasi
  • “Sekali dalam seminggu saya wajib mencoba      membuat salah satu jenis makanan khas daerah dari seluruh nusantara dan      menyajikan untuk keluarga agar lewat makanan, nasionalisme mereka juga      terpupuk”, Lala Lestarya, 27 tahun, Kabanjahe
  • “Saya akan berkata DUNIA HIBURAN bukan DUNIA      ENTERTAIN. Akan berujar AMAT PENTING bukan IMPORTANT BANGET. Akan mengaku      SUNGGUH TERTARIK bukannya INTEREST SEKALI. Akan malu, jika terus membuat      telinga Bapak/Ibu gatal-gatal”, Maria Pade Rohana, 23 tahun, Jakarta
  •  “Saya      dan keluarga memilih untuk membeli produk berlabel MADE IN INDONESIA atau      yang diproduksi di pabrik Indonesia, karena dibalik label itu ada ribuan      buruh yang menggantungkan hidup dan nasib anak istrinya”, Osa Kurniawan      Ilham, 33 tahun, Balikpapan
  • “Kami sering berkirim email dengan      orang-orang dari seluruh dunia. Bisa berbicara dengan mereka dan      menceritakan bahwa masyarakat Indonesia ramah, bermartabat, berbudaya dan      cerdas, sudah merupakan bentuk dari nasionalisme kami yang teralisasikan”,      Sodiqa dan Strida, 18 tahun, Tangerang
  • “Gak usah muluk-muluk bicara soal      nasionalisme. Aku kerja bakti RT seminggu sekali, ronda dua kali sebulan      dan peduli sama tetangga kiri-kanan, depan-belakang. Itu nasionalisme      banget menurut aku”, Wempy Rustikana, 39 tahun, Cirebon
  • “Kurela tinggalkan karierku demi menjadi ibu      rumah tangga yang baik. Kan kudidik anak-anakku jadi generasi penerus      bangsa yang tangguh, bebas narkoba, dan berakhlak. Itulah nasionalismeku      dengan mempersiapkan pemimpin masa depan”, Atina, 39 tahun, Purbalingga
  • “Saya berlibur cukup di dalam negeri saja.      Di seluruh penjuru tanah air saya dapat menemukan keindahan dan eksotisme      yang gak kalah dari negeri lain. Ini bentuk nasionalisme kan?”, Shinta      Budianto, 30 tahun, Yogyakarta
  • “Bagiku nasionalisme ialah mencintai makanan      khas Indonesia, yang jumlahnya ribuan! Bayangin, bangsa asing aja      bela-belain jajah Nusantara dikarenakan rempah-rempah, eh knapa kita nggak      suka makanan yang kaya dengan bumbu khas Indonesia???”, Anna R Rawaning S,      30 tahun, Jakarta
  • “Saya adalah PRT. Kalau belanja dan memasak,      saya selalu menggunakan produk Indonesia. Bukankah itu bentuk nasionalisme      orang seperti saya?”, Nafi’ah, 34 tahun, Jakarta
  • “Setiap HP-ku bunyi, orang selalu bilang      ‘nasionalis banget’. Itu karena nada dering HP-ku Indonesia Raya. Saat      banyak orang mencari lagu pop, dangdut, rock atau barat terbaik untuk nada      dering, aku justru memakai lagu kebangsaan”, Agus Setyanto, 36 tahun,      Jakarta
  • “Membersihkan lingkungan rumah masing-masing      itu merupakan nasionalisme yang paling mudah dan sederhana dilakukan,      betul?”, Aan Permana, 31 tahun, Garut
  • “Tak perlu menjadi orang Belanda, orang New      York atau band U2. Cukup menjadi diri sendiri”, Diki Satya, 32 tahun,      Jakarta
  • “Di sini tak cukup dengan mengibarkan merah      putih sudah berjiwa nasionalisme, tapi dengan pelatihan keahlian untuk      bangkit yang saya berikan bagi mereka yang tertindas dan konflik dan      bencana, setidaknya bisa mengibarkan semangat merah putih kepada mereka di      negeri ini.”, Sudarmansyah, 29 tahun, Aceh
  • “Saya buka sekolah gratis khusus untuk      anak-anak tidak mampu dengan kemampuan dan kurikulum khusus serta      fasilitas lengkap, sehingga Indonesia akan punya ahli di segala bidang dan      tidak tergantung pada negara lain.” E.P. Satyaningsih, 38 tahun, Magelang
  • “Pemulung, itulah sebutan yang dilontarkan      oelh teman-teman untuk saya. Karena saya sering memungut sampah dimanapun      berada. Tak jarang saku saya tebal, bukan karena uang banyak, tapi karena      penuh dengan bungkus permen. Itulah ekspresi nasionalisme saya!”, M.      Sholoch Mubarok, 21 tahun, Demak
  • “Kususui sendiri bayi-bayiku semapi umur 2      tahun, jadwal ketat imunisasi, kusiapkan sendiri makanan yang bergizi,      kuajari sopan dan ramah, kuajari melakukan pekerjaan rumah tangga      sehari-hari, jadilah mereka anak yang pandai dan berbudi, nah kini mereka      kupersembahkan untuk jadi pandu pertiwi.” Farida, 50 tahun, Jakarta
  • “Saya bertani di desa agar berkurang satu      beban negara karena pengangguran, itu nasionalismeku!”, Adi, 24 tahun,      Cianjur
  • “Gw lebih suka beli baju di distro-distro      yang banyak buatan baju dalam negeri. Lagian baju dalam negeri lebih      murah, gak kalah bagus tuh mutunya ama buatan luar negeri, malahan      desainnya lebih variatif, inovatif dan gak pasaran.” Saphira Evani, 16      tahun, Tangerang
  • “Saya dan istri membuka Sanggar Kreatifitas      Seni di teras halaman rumah di bawah pohon mangga. Tiap minggu menggambar      bersama anak-anak tetangga. Menumbuh-kembangkan imajinasi, intuisi, ide,      gagasan adalah bentuk kesadaran nasionalisme juga!”, Munadi, 44 tahun,      Tangerang
  • “Tugasku menjaga kerapihan barisan setiap      hari Senin dan membuat kelas selalu tertib adalah bagian dari nasioanlisme      juga kan?” Muhammad Rifky Ramadhani, 7,5 tahun, Depok
  • “Bikin kursus komputer gratis bagi anak SD,      SMP biar generasi kita melek teknologi” Adja Djadja, 39 tahun, Bandung
  • “Saya ibu rumah tangga dengan 3 putra,      selalu pakai produk lokal seperti gula pasir, wortel, daging dll.      Sayangnya saya tidak bisa bedakan garam lokal atau impor”, Verna, 48      tahun, Tangerang
  • “Saya dirikan LKM khusus untuk KK miskin      dengan modal sendiri. Memberikan pinjaman berupa sepasang kambing untuk 47      KK miskin dengan target 800 KK miskin dalam 6 bulan dengan sistem bagi      hasil 70-30” Mulyadi, 29 tahun, Kabupaten Lima Puluh Kota
  • “Temenku ada yang suka banget borong buku      murah kalo lagi ada pameran buku, dan ternyata bukan buat dia, tapi buat      dikirim ke para TKW di luar negeri sono, biar mereka tetep melek      informasi. Nasionalis banget yach!” Indira Primasari, 22 tahun, Yogyakarta
  • “Kalo aku, sebisa mungkin selalu baca koran,      mengikuti berita TV, radio, media online, terutama berita nasional,      meskipun gak setiap hari, karena menurut aku sebagai generasi penerus,      kita harus tahu dan peka terhadap situasi dan kondisi bangsa.” Nurlinda      Komala, 20 tahun, Sukabumi
  • “Walau bukan PNS mengikuti peringatan hasi      bersejarah sudah merupakan bentuk nasionalismeku buat tanah airku.”      Saryoni, 43 tahun, Padangpanjang
  • “Aku terus menabung agar bisa jadi sarjana      hukum, biar di negeriku tak lagi ada jual beli hukum.” Imam Subkhi, 23      tahun, Brebes
  • “Gue cinta band-band indie lokal gue      sendiri, gak kalah cadas sama band-band luar negeri. Bentuk nasionalisme      gue yang orang lain anggap sepele!” Emir Darmawan, 27 tahun, Jakarta
  • “Dalam rangka HUT RI di lingkungan rumah,      saya mengadakan lomba kreasi makanan dari singkong. Ini bentuk      nasionalisme saya sebagai generasi muda dalam melestarikan kue tradisional      ditengah maraknya kue modern.” Ansi Rima Paramita, 21 tahun, Tangerang
  • “Gagasan untuk membangun daerah Bangka      Selatan kerapkali kutuangkan dalam bentuk tulisan di koran. Ajakan      membangun daerah merupakan bentuk nasionalismeku sebagai rakyat.” Rusmin      Syofian, 39 tahun, Toboali
  • “Nasionalisme kuwujudkan dengan mencintai      musik dangdut, yang notabenenya musik khas Indonesia.” Rianti, 20 tahun,      Yogyakarta
  • “Dua anakku kuberi nama dengan karakter      Indonesia yang kental. Jadi meski orang belum pernah bertemu dengannya secara      langsung, orang pasti akan tahu, anak saya memang anak Indonesia.” Amir      PR, 35 tahun, Makassar
  • “Berkarya sebagai guru dan memperkuat ‘akar’      kebangsaan sekaligus mendampingi mereka. Bangga rasanya jadi elemen      pencerdas bangsa. Agar garuda-garuda Indonesia dapat mengepakkan ‘sayap’      menggapai cita-citanya dan tetap berdiri tegak sebagai orang Indonesia.”      Adven Sarbani, 24 tahun, Jember
  • “Ketika semua teman seangkatanku pakai gaun      mewah dan tuxedo ke acara prom night waktu SMA, aku bangga datang edngan      mengenakan kebaya mamaku.” Dyah Ayu, 21 tahun, Jakarta
  • “Ketika gue bersama suporter lain berjuang      antri tiket bola selama 5 jam desak-desakan di terik matahari, sampe ada      yang menginap di halte bus, ada yang terluka. Ketika lagu INDONESIA RAYA      berkumandang, kami bernyanyi bersama disertai air mata, tepuk tangan dan      berteriak sekeras-kerasnya.” Roberto Tambunan, 22 tahun, Tangerang
  • “Saya sedang membiayai warung makanan ringan      untuk teman-teman saya yang belum mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya      dengan modal Rp 5 juta, tiga orang teman saya dapat penghasilan tambahan      untuk keluarganya.” Yahmin G. Tarigan, 33 tahun, Rantau Prapat
  • “Sebagai penanggungjawab di kantor cabang,      saya berusaha memberikan layanan yang terbaik, cepat dan maksimal kepada      masyarakat. Saya hilangkan birokrasi yang berbelit-belit dan high cost.      Nasionalisme kupupuk dengan menjadi lebih profesional dan bertanggungjawab      terhadap pekerjaan.” Yessie Marisa, 31 tahun, Makassar
  • “Setiap bulan Agustus datang, saya pasang      bendera merah putih di tiang spion sepeda motor saya. Setiap bertemu      dengan pengendara motor lain, saya teriakkan dengan lantang “MERDEKA!!!”      Bayangkan bila kami setiap kali bertemu di jalan secara serempak      meneriakkan kata MERDEKA!!!” Moch Faisol, 31 tahun, Jombang
                            

Peristiwa 13 Tahun Lalu

Blog, selamat bertemu kembali. Dalam kesempatan ini aku akan menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya Jumat, 6 Mei 1994.

Waktu itu aku masih kelas 3 SD. Ya...namanya anak-anak, masih seneng lah, maen2 ke sana-sini. Di rumahnya waktu itu ada dua buah sepeda. Aku suka naik sepeda waktu kecil. Aku senang bermain terutama dengan kakakku. Biasanya kemanapun dia pergi, aku selalu ikut. Suatu siang aku naik sepeda hingga ke jalan raya.

Rumahku memang berada persis didepan jalan raya propinsi. Jalan raya itu sangat ramai dan dilalui bus yang lalu lalang. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan kebisingan yang ditimbulkan bus, truk dan segala macam debu yang menerpa rumahku. Aku naek sepeda meninggalkan rumah. Waktu itu sekitar jam jam setengah 3 siang. Muter2 tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar radius 400 meter. Pulang dari muter-muter, aku harus segera balik ke rumah. Aku memutuskan untuk lewat ke jalan raya. Jalan raya tidak terlalu ramai. Hanya bbrp mobil lewat. Aku naik sepeda dengan santai.

Nah...tiba saatnya untuk nyebrang jalan. Aku harus nyebrang ke arah kanan. Saat itu aku berada kira2 100 meter dari rumah. Tanpa melihat ke belakang, aku langsung saja nyebrang dengan mengendarai sepeda.

Tiba-tiba... Terdengar suara mobil mengerem dengan mendadak. Suara mobil berasal dari belakang. Aku menoleh ke asal suara, tepatnya di belakangku. Mobil itu berhenti tepat satu meter di belakangku. Aku tidak sadar bahwa pada saat aku mau nyebrang naik sepeda, saat itu ada mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sopir mobil itu berhasil menghentikan mobilnya.

Karena terdengar suara yang keras, banyak orang yang keluar dari rumah. Mereka mengira ada yang kecelakaan karena di daerah itu memang sering terjadi kecelakaan.

Menurut orang-orang, ditempat aku hampir kecelakaan itu, memang sering terjadi kecelakaan. Beberapa orang meninggal. Sejak aku lahir dan tinggal di daerah itu, sudah belasan kali terjadi kecelakaan dan bbrp korban meninggal dunia. Orang tuaku dan kakakku keluar dari rumah. Tentu saja mereka kaget.

Fuih....syukurlah. Aku selamat. Jika saja sopir mobil itu tidak dapat menghentikan mobilnya, aku tidak tahu apakah aku masih bisa menuliskan cerita ini di blog. Pada waktu itu, aku keluar hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Orang tuaku menyimpan celana pendek dan kaos obong itu hingga sekarang. Di dalamnya ada tulisan, “Ya Allah, Alhamdulillah anak kami telah selamat. 6 Mei 1994”

Hingga sekarang kadangkala aku trauma jika nyebrang ke arah kanan. Aku masih sering melihat kaca spion ke belakang hingga aku yakin. Namun...itu kadang-kadang. Aku yakin bahwa maut dapat datang menjemput sewaktu-waktu. Manusia hanyalah kecil di dunia dunia ini. Sebuah makhluk kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Pencipta. Yang dapat dilakukan manusia hanyalah meminimalisir probabilitas/kemungkinan terjadinya kecelakaan. Namun manusia tidak dapat menghilangkan sama sekali probabilitas tersebut (zero). Contohnya, kecelakaan pesawat. Naik pesawat bagus, mahal atau bergengsi sebenarnya tetap saja ada risiko kecelakaan. Tidak serta merta pesawat mahal maka tidak akan terjadi kecelakaan.

Aku hanyalah manusia biasa yang senantiasa terus berjalan di bumi. Semoga jika aku mati, aku mati dalam keadaan beriman. Aku takut jika pada saat mati aku tidak dalam keadaan beriman kepada-Nya. Terkadang cacat sedikit memang dapat merusak susu sebelanga. Semakin hari, aku semakin mengerti dan dapat memahami. Terus berusaha memahami arti kehidupan. Semoga aku dapat menjadi orang yang tidak rugi hidup di dunia ini dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Amin............

Depok, 11Agustus 2007
21:10 WIB

Kembali dari Gorontalo

Alhamdulillah, bisa pulang dengan selamat sampai di Jakarta. Kmrn bbrp hari ada di Gorontalo, ikutan rapid assesment Program Keluarga Harapan (PKH) yang diadakah Bappenas.

Fuih....pengalaman yang menyenangkan. Ikutan tahu tentang proses program pemerintah di lapangan. Kmrn waktu pulang, naek pesawat, sempet dag dig dug. Pesawatnya, baru take off 1 menit, menukik ke bawah slama bbrp detik. Terang saja, seluruh penumpang pada panik. Selama perjalanan, ngrasa kalo ada yang aneh. Alhamdulillah, bisa sampe dengan selamat di Cengkareng.

Aku ikutan ke Gorontalo, tanggal 6 - 9 agustus 2007. Lumayan, bisa foto2 di sana, hehehe....

Jika melihat daerah, terdapat banyak ketimpangan dengan pembangunan di Jakarta. Keliatan banget bahwa Indonesia slama ini hanya ada di Jakarta (atau Jawa). Kue pembangunan memang kurang merata. Ini adalah bibit dari separatisme di daerah. Jika obatnya dari dulu cuma tindakan represif, ya itu kurang efektif.

Tindakan preventif yang tepat adalah meratakan pembangunan di seluruh Indonesia. Kmrn waktu tiba di bandara Djalaluddin, nama bandara di Gorontalo (red). Di sana banyak perbedaan. Bandara tersebut masih baru dan dalam tahap pembenahan. Kamar mandinya jorok. Air port tax-nya??? Rp 9.000,-. Jangan bandingkan dengan Soekarno-Hatta seharga Rp 30.000,-. Beda jauh lah....

Itu baru yang keliatan sedikit. Belom kalo menelisik lebih jauh lagi. Well, semoga Indonesia lebih baik lagi kedepan

-arip muttaqien-

-orde pemikiran bebas-